Hari
ini matahari sangat cerah . Tetapi tidak secerah wajah Aysah yang dengan
langkah tergesa memasuki halaman rumahnya . Tak lupa mengucap salam pada ibu
yang sedang merapikan susunan pot diteras rumah, Aysah langsung masuk kedalam
rumah.
“Ays,
kok cemberut gitu sih . Pulang awal kok malah nggak senang ? Ada apa sayang ?”
Tanya ibu kepada Ays .
“Aysah
nggak apa apa kok bu”
“Nggak
baik bohong dibulan Ramadhan Ays, apalagi puasa tinggal 3 hari lagi . Kita
harus tetap menjaga hati kita dibulan suci ini saying?” kata ibu dengan lembut
seraya merengkuh kepada Aysah di pelukannya
“Ada
apa Ays. Cerita ya pada ibu”
Dengan
mata berkaca kaca Ays berkata
“Ibu
, kenapa ays belum dibelikan baju lebaran ? Tadi di sekolah teman teman Ays
bercerita kalau mereka sudah dibelikan punya baju baru buat Lebaran” dengan terbata
bata dan air mata yang mulai membasahi pipi yang putih bersih itu Aysah
menjawab pertanyaan ibu .
“Ays
saying, ternayata itu yang membuat hati anak ibu yang paling rajin puasa ini
bersedih”
“Iya
bu . Fathimah tadi bilang kalau kemarin dia telah dibelikan ummi nya 2 stel
baju yang bagus sekali . Warnanya merah muda serasi dengan kerudungnya . Salma
juga begitu bu. Dia dibelikan baju yang sama dengan adiknya . Hamzah bu anak
lelaki temanku yang badung itu dia pun telah dibelikan baju koko yang sama
dengan ayahnya “
“Ays…
Ingat tidak kalau waktu kenaikan kelas Aysah mendapat juara kelas ayah dan ibu
membeli gaun panjang yang cantik yang serasi waena dan modelnya dengan kerudung
yang sampai sekarang belum pernah Ays pakai ?”
“Ingat
bu . Tapi itu kan bukan baju buat lebaran. “
“Ya
sudah, sekarang Ays ganti baju dan ikut ibu ya?”
“Kemana
bu? Beli baju lebaran ya?”
Dengan
senyum yang penuh arti ibu hanya mengiyakan pertanyaan Aysah. Tak sampai satu
jam perjalanan ibu dan Aysah sampai di suatu tempat, Dengan cermat Aysah
membaca papan nama di depan bangunan itu . Panti Asuhan Kasih Ibu demikian nama
yang ada di papan itu .
“Ayo
Ays , kita masuk ke dalam “
Dengam
langkah ibu yang lebih dulu didepan . Setelah mengucap salam dengan seorang
bapak penjaga ibu dan Aysah memasuki ruangan yang ada di bagian depan bangunan
panti itu.
“Selamat
datang bu Nurul . Ini pasti Aysah yang pintar tauziah itu ya bu aduh cantiknya”
kata ibu pengurus panti yang ternyata adalah teman ibu Aysah .
“Iya
bu Ida . Saya kesini mengajak Aysah menengok saudara saudara di sini. Tak lupa
Ays juga membawa oleh oleh pakaian , buku , buku cerita dan sedikit makanan
buat adik adik Ays disini, bukan begitu Ays?”
Aysah
hanya mengangguk mendengar perkataan ibu . Dengan diantar bu Ida, Aysah dan ibu
berkeliling melihat lihat keadaan dipanti .
Ada
segerombol anak seusia Ays yang sedang membaca buku cerita . Mereka
menganggukan kepala sembari mengucap salam ketika Aysah melewatinya . Pakaian
mereka sederhana sekali . Tidak ada jepit atau pita di rambut mereka . Disudut
ruangan ada dua anak yang sedang belajar merajut . Mereka bergantian melihat
buku panduan yang halamannya sudah lusuh pertanda kalau buku itu sudah usang .
Ada juga sekelompok anak yang sedang menghiasa stoples bekas dengan kain perca
beraneka warna . Mereka dengan tekun dan gembira mengerjakannya . Usia mereka
tidak jauh dengan usia Aysah .
Dibelakang
bagian panti itu Aysah melihat anak anak yang usianya lebih besar tengah
membantu pengurus panti memasak untuk berbuka puasa nanti . Ada yang memotong
sayuran meracik bumbu dan memarut kelapa untuk dijadikan minuman disaat berbuka
nanti . Mereka semua tak menampakkan kesedihan dan kelelahan dengan keadaan
mereka . Mereka menjalani nya dengan ikhlas dan tawakal .
Aysah
melihat semua ini dengan hati terharu . Mereka tak punya orang tua, saudara
tetepai tetap berusaha untuk tabah dan gembira. Mereka tak punya baju baru,
sepatu baru apalagi bandana dan jepit rambut baru . Mereka makan dengan menu
seadanya mereka sekolah dengan peralatan bekas dari donator yang dengan setia
mengunjungi panti ini. Tidak ada handphone , Ipad dan games games keren yang
dapat mereka mainkan.
Tak
terasa air mata mengalir di pipi Aysah melihat ini . Perasaan haru, sedih dan
menyesal berbaur menjadi satu . Aysah merasa kecil sekali bila disbandingkan
dengan mereka. Mereka tetap tabah , tawakal dan selalu bersyukur walaupun dalam
keterbatasan .
Aysah
malu dengan dirinya sendiri yang selalu merasa kekurangan walaupun berlebihan .
Keluarga yang sayang, teman dan saudara yang selalu ada, baju baju bagus yang
selalu mengikuti mode, handphone dan peralatan modern yang disediakan dirumah
untuk menunjang belajar dirumah . Dan masih banyak lagi nikmat dan karunia
Tuhan kepada Aysah .
Aysah
sadar bahwa dirinya masih jauh lebih beruntung dari mereka.
“Ays,
kita pulang yuk” Kata ibu menyadarkan Aysah yang kemudian hanya mampu
menganggukkan kepala . Dalam benaknya hanya satu keinginan untuk meminta maaf
kepada Ibu . Aysah sudah tidak ingin dibelikan baju baru lagi . Ia ingin
berbagi kebahagiaan dengan ayah dan ibu tercinta . Aysah berjanji untuk lebih
berbagi dengan sesama untuk kebaikan di bulan yang suci ini .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar