Kamis, 18 Juli 2013

JANJI AYSAH


Hari ini matahari sangat cerah . Tetapi tidak secerah wajah Aysah yang dengan langkah tergesa memasuki halaman rumahnya . Tak lupa mengucap salam pada ibu yang sedang merapikan susunan pot diteras rumah, Aysah langsung masuk kedalam rumah.
“Ays, kok cemberut gitu sih . Pulang awal kok malah nggak senang ? Ada apa sayang ?” Tanya ibu kepada Ays .
“Aysah nggak apa apa kok bu”
“Nggak baik bohong dibulan Ramadhan Ays, apalagi puasa tinggal 3 hari lagi . Kita harus tetap menjaga hati kita dibulan suci ini saying?” kata ibu dengan lembut seraya merengkuh kepada Aysah di pelukannya
“Ada apa Ays. Cerita ya pada ibu”
Dengan mata berkaca kaca Ays berkata
“Ibu , kenapa ays belum dibelikan baju lebaran ? Tadi di sekolah teman teman Ays bercerita kalau mereka sudah dibelikan punya baju baru buat Lebaran” dengan terbata bata dan air mata yang mulai membasahi pipi yang putih bersih itu Aysah menjawab pertanyaan ibu .
“Ays saying, ternayata itu yang membuat hati anak ibu yang paling rajin puasa ini bersedih”
“Iya bu . Fathimah tadi bilang kalau kemarin dia telah dibelikan ummi nya 2 stel baju yang bagus sekali . Warnanya merah muda serasi dengan kerudungnya . Salma juga begitu bu. Dia dibelikan baju yang sama dengan adiknya . Hamzah bu anak lelaki temanku yang badung itu dia pun telah dibelikan baju koko yang sama dengan ayahnya “
“Ays… Ingat tidak kalau waktu kenaikan kelas Aysah mendapat juara kelas ayah dan ibu membeli gaun panjang yang cantik yang serasi waena dan modelnya dengan kerudung yang sampai sekarang belum pernah Ays pakai ?”
“Ingat bu . Tapi itu kan bukan baju buat lebaran. “
“Ya sudah, sekarang Ays ganti baju dan ikut ibu ya?”
“Kemana bu? Beli baju lebaran ya?”
Dengan senyum yang penuh arti ibu hanya mengiyakan pertanyaan Aysah. Tak sampai satu jam perjalanan ibu dan Aysah sampai di suatu tempat, Dengan cermat Aysah membaca papan nama di depan bangunan itu . Panti Asuhan Kasih Ibu demikian nama yang ada di papan itu .
“Ayo Ays , kita masuk ke dalam “
Dengam langkah ibu yang lebih dulu didepan . Setelah mengucap salam dengan seorang bapak penjaga ibu dan Aysah memasuki ruangan yang ada di bagian depan bangunan panti itu.
“Selamat datang bu Nurul . Ini pasti Aysah yang pintar tauziah itu ya bu aduh cantiknya” kata ibu pengurus panti yang ternyata adalah teman ibu Aysah .
“Iya bu Ida . Saya kesini mengajak Aysah menengok saudara saudara di sini. Tak lupa Ays juga membawa oleh oleh pakaian , buku , buku cerita dan sedikit makanan buat adik adik Ays disini, bukan begitu Ays?”
Aysah hanya mengangguk mendengar perkataan ibu . Dengan diantar bu Ida, Aysah dan ibu berkeliling melihat lihat keadaan dipanti .
Ada segerombol anak seusia Ays yang sedang membaca buku cerita . Mereka menganggukan kepala sembari mengucap salam ketika Aysah melewatinya . Pakaian mereka sederhana sekali . Tidak ada jepit atau pita di rambut mereka . Disudut ruangan ada dua anak yang sedang belajar merajut . Mereka bergantian melihat buku panduan yang halamannya sudah lusuh pertanda kalau buku itu sudah usang . Ada juga sekelompok anak yang sedang menghiasa stoples bekas dengan kain perca beraneka warna . Mereka dengan tekun dan gembira mengerjakannya . Usia mereka tidak jauh dengan usia Aysah .
Dibelakang bagian panti itu Aysah melihat anak anak yang usianya lebih besar tengah membantu pengurus panti memasak untuk berbuka puasa nanti . Ada yang memotong sayuran meracik bumbu dan memarut kelapa untuk dijadikan minuman disaat berbuka nanti . Mereka semua tak menampakkan kesedihan dan kelelahan dengan keadaan mereka . Mereka menjalani nya dengan ikhlas dan tawakal .
Aysah melihat semua ini dengan hati terharu . Mereka tak punya orang tua, saudara tetepai tetap berusaha untuk tabah dan gembira. Mereka tak punya baju baru, sepatu baru apalagi bandana dan jepit rambut baru . Mereka makan dengan menu seadanya mereka sekolah dengan peralatan bekas dari donator yang dengan setia mengunjungi panti ini. Tidak ada handphone , Ipad dan games games keren yang dapat mereka mainkan.
Tak terasa air mata mengalir di pipi Aysah melihat ini . Perasaan haru, sedih dan menyesal berbaur menjadi satu . Aysah merasa kecil sekali bila disbandingkan dengan mereka. Mereka tetap tabah , tawakal dan selalu bersyukur walaupun dalam keterbatasan .
Aysah malu dengan dirinya sendiri yang selalu merasa kekurangan walaupun berlebihan . Keluarga yang sayang, teman dan saudara yang selalu ada, baju baju bagus yang selalu mengikuti mode, handphone dan peralatan modern yang disediakan dirumah untuk menunjang belajar dirumah . Dan masih banyak lagi nikmat dan karunia Tuhan kepada Aysah .
Aysah sadar bahwa dirinya masih jauh lebih beruntung dari mereka.
“Ays, kita pulang yuk” Kata ibu menyadarkan Aysah yang kemudian hanya mampu menganggukkan kepala . Dalam benaknya hanya satu keinginan untuk meminta maaf kepada Ibu . Aysah sudah tidak ingin dibelikan baju baru lagi . Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan ayah dan ibu tercinta . Aysah berjanji untuk lebih berbagi dengan sesama untuk kebaikan di bulan yang suci ini .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar