Kamis, 25 Juli 2013

KARMA



Karma

Semilir angin senja mulai menembus pori poriku,gemuruh ombak pantai ini mengkoyak hatiku yang perih bagai tak terasa apa yang tengah kulihat dan kurasakan.Kepak camar laut membuat tarian indah yang tak mampu lagi aku maknai. Hanya langkah kakiku yang tanpa aba terus menapak di atas pasir ini.Disamping satu satunya batu besar yang ada di pantai ini aku termenung.Separuh hatiku pergi ,separuh jiwaku melayang entah tak tau kemana hendak berlabuh. Masih teringat di benakku peristiwa yang baru saja menghempaskan nuraniku jatuh ke dalam jurang kesedihan yang amat dalam.Pengakuan jujur dari mulut suami yang sangat kucintai bagai petir di siang bolong.
Mas Tris suami dan bapak dari Pipit anak semata wayangku dengan wajah seolah tanpa dosa berkata bahwa selama ini dia membagi hati dengan wanita lain.
“Lastri,bukan aku tak mencintaimu lagi ,bukan aku tak menyayangimu lagi tapi semua ani aku lakukan karena aku tak ingin menyakitimu.”
“Apa maksudmu mas?”
“Maafkan aku ….Ada wanita lain di hatiku…”
Gemuruh di dadaku tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan dengan pengakuan ini.
“Siapa mas?”
Tak ada kata lain selai pertanyaan itu.Ada sebongkah gunung karang yang begitu besar membebani ulu hatiku.Berat dan sakit sekali yang kurasakan.
“ Fitri” jawab mas Tris dengan menunduk dihadapanku.
Hilang separuh hatiku mendengar nama itu disebut.Tak ada kata lain yang kembali terucap.Tanpa ada yang harus kujelaskan langkahku menjauh dan berlalu.
Guyangan ,Sukomanah,Gesing ,Nampu ,desa desa kecil yang kulalui sampai di pantai Jatimalang semua jadi saksi bisu menatap di belakangku di awal senja yang menyakitkan ini.Di pantai inilah awal mula pertemuanku dengan mas Tris seorang lelaki sederhana yang merajut mimpi mendulang harapan di desa kecil di pinggir pantai selatan ini.Seorang yang baru saja menghabiskan waktunya di sebuah universitas di kotaku yang belajar untuk menuai ilmunya di sebuah desa dimana aku tinggal dengan bapak dan ibuku yang sangat sederhana walaupun kami dibilang cukup harta dan benda untuk ukuran orang desa di pinggiran pantai ini.Semua indah diawal perkenalanku dengan mas Tris.Memang tak ada untaian kata kata indah yang mengantarkan hati kami jadi terpaut.Hanya ungkapan sederhana yang mas Tris sering ucapkan sebagai tanda cintanya kepadaku.Hanya mata dan hati kami yang lebih mengerti dengan semua ini.
Dengan melihat laut aku punya banyak mimpi dan harapan.Jauh di ujung sana aku melihat fatamorgana yang samar dan aku tau ada misteri alam dan kehidupan yang entah mulai kapan aku tak tau ada di benakku.
Ombak yang bergulung menari berkejaran seolah menghampiri asa yang ku jelang. Belum lagi suara camar laut yang riuh rendah mengukir sebuah sonata yang indah semakin membuatku tak bisa untuk melupkan dan mensyukuri nikmat dari sang Khalik ini.
Sering aku dan mas Tris menyusuri jalan Daendels yang terlihat angkuh dan diam seakan menyimpan semua peristiwa saat jaman Kolonial dulu.Perkebunan tebu rakyat di sisi kiri dan kanan seakan menggambarkan sosok mandor yang keras dan feodal kala itu dengan buruh tebang tebu jaman dahulu.Lori lori tua yang masih bisa digunakan masih tersimpan rapi di ujung perkebunan .Banyak cerita sedih dan kisah asmara yang sering kudengar di seputar perkebunan itu.
Seiring dengan waktu yang terus berjalan kekuatan cintaku dengan mas Tris semakin tidak bisa dipisahkan hingga tali merah perkawinan mengikat cinta kami .Sepasang anak Adam yang sangat sarat dengankebahagian melenggang menapak kehidupan menjemput asa dan harapan. Dengan modal dari bapak yang waktu itu sebagai carik di desaku awal usahaku dan mas Tris dimulai dari nol.Sebuah lahan yang subur untuk bercocok tanan holtikultura disamping kios buah di ujung desa mampu untuk menopang kehidupanku yang mulai menggapai sinar kesuksesan.Tanpa mengenal terik sang surya dan derasnya guyuran air hujan terkadang kami berdua bergantian memantau dan memberi pengarahan pada para pekerja di kebun atau di kios buah.Tak terasa 3tahun kami lalui bersama hingga lahirlah Pipit buah cinta kami.Tidak ada kata selain bahagia yang terungkap selain itu.Bapak dan ibuku tak luput dengan aura bahagia itu.Semakin sempurnalah diriku sebagai seorang istri di mata mas Tris.
Usaha yang kami rintis semakin bertambah maju dengan berjalannya waktu.Beruntung lahan di desaku masih luas dan belum sepenuhnya dikuasai pihak yang banyak mengambil keuntungan di bidang property seperti usaha rumah tinggal yang makin marak seperti di kota Purworejo kota kabupaten yang lumayan jauh dari desaku.
Banyak waktu yang aku habiskan dengan Pipit anak semata wayangku di saat mas Tris mengurus usahanya di luar daerah.Tak jarang mas Tris harus pulang hingga dini hari untuk mengurus semua itu.Kios buah kami sudah mempunyai cabang di pasar tetangga desa dan pedagang sayur mayur di pasar pasar tradisional di tempat kami sudah menjadi rekan usaha kami.
Bapak yang aku kenal sebagai tokoh hidup yang sangat aku kagumi dengan kegigihan dan keuletannya tidak bisa menyaksikan sepenggalan sukses usaha kami yang semua adalah modal dan dukungan dari bapak.Dengan kesedihan yang sangat mendalam aku masaih merasakan rasa yang mengiris menyayat luka ketika ku melihat jasad bapak yang terbujur kaku meninggal dengan sebab yang tidak diketahui oleh dokter sekalipun.Dengan linangan air mata dan perasaan yang mengharu biru kepergian bapak kami antar menuju sang Khalik di senja waktu itu.Sampai Pipit menjelang remaja kami tetep tidak mengetahui apa dan siapa yang mampu membuat bapak pergi dengan jalan seperti itu.
Tak ada jejak yang bisa kami lacak,tak ada telik sandi tempat kami bertanya.Gamang tanpa ada arah yang pasti dengan semua kejadian ini.Dari pak lurah hingga aparat di desaku semua diam ,semua bungkam tanpa ada suara yang keluar dari mulut mereka.Ada selintas kabut tipis di mata pak lurah ketika dia memberikan penghormatan terakhir pada jasad bapak ketika hendak menuju jalan keabadian rumah peristirahatan terakhir yang tak jauh dari tempat tinggalku.Semua seakan menjadi misteri yang tidak mudah aku sibak dan tetap akan menjadi teka teki kehidupan yang sulit kutemukan jawabannya.
Malam terus merangkak meninggalkan senja yang telah jauh tertinggal.Jalan yang kulalui masih tetap seperti kala pertama kumenapak menghantat mimpi mimpi gelapku. Perasaan yang mengharu biru perasaan yang tersakiti oleh sebuah pengakuan jujur seorang yang sangat kucintai yang sangat kusayangi .Apa salah dan dosaku selama ini?
Suatu kenyataan yang harus kuterima .Sebuah cerita kehidupan yang meluluhlantakkan hati dan harapanku.Rajutan peristiwa dan kisah indah yang selama ini seakan tak ada habisnya oleh binar kasih sayang mas Tris kepadaku hilang bersama separuh hatiku.
Kenapa harus Fitri?Kenapa harus dia.Kutak sanggup berfikir lagi ketika lamunanku terusik celoteh dua bocah penjual layang layang yang berlarian hendak pulang karena malam telah menjelang.Kulangkahkan kakiku entah kemana lagi aku tertatih membawa sisa luka yang masih menganga.Aku tak tau lagi apakah masih tersimpan asa di depan mataku.Mungkinkah ini karma?Hanya sang Khalik yang bisa menjawabnya.Perih dan pedih hatiku tercabik kenyataan ini.Gambaran aib yang bertahun tahun tersimpan rapat di relung hatiku yang paling dalam tersibak terkuak dengan kejadian ini.Kenapa harus Fitri wanita yang menjadi bagian hati suamiku yang tak lain adalah adik tiriku.Ada kisah yang begitu menyakitkan .Ada segelintir cerita yang begitu perih menyedihkan.Ada segores harapan dalam kenistaan.Fitri adik tiriku hasil buah cinta terlarang bapak dengan istri pak lurah.
Ibu adalah sosok wanita yang penuh dengan ribuan maaf dan pengampunan.Diam adalah sikapnya yang membuat aku sangat dan sangat menyayangi dan menghormatinya.
Hati dua wanita yang teraniaya.Yang tercabik nista yang tidak terperi.
Nyanyian camar laut menambah perih sayatan di hatiku.Gemuruh ombak seakan tertawa melihat deritaku.Satu asa masih melintas di relung hatiku.Apapun itu hanya sang Khalik yang tau.

Kamis, 18 Juli 2013

JANJI AYSAH


Hari ini matahari sangat cerah . Tetapi tidak secerah wajah Aysah yang dengan langkah tergesa memasuki halaman rumahnya . Tak lupa mengucap salam pada ibu yang sedang merapikan susunan pot diteras rumah, Aysah langsung masuk kedalam rumah.
“Ays, kok cemberut gitu sih . Pulang awal kok malah nggak senang ? Ada apa sayang ?” Tanya ibu kepada Ays .
“Aysah nggak apa apa kok bu”
“Nggak baik bohong dibulan Ramadhan Ays, apalagi puasa tinggal 3 hari lagi . Kita harus tetap menjaga hati kita dibulan suci ini saying?” kata ibu dengan lembut seraya merengkuh kepada Aysah di pelukannya
“Ada apa Ays. Cerita ya pada ibu”
Dengan mata berkaca kaca Ays berkata
“Ibu , kenapa ays belum dibelikan baju lebaran ? Tadi di sekolah teman teman Ays bercerita kalau mereka sudah dibelikan punya baju baru buat Lebaran” dengan terbata bata dan air mata yang mulai membasahi pipi yang putih bersih itu Aysah menjawab pertanyaan ibu .
“Ays saying, ternayata itu yang membuat hati anak ibu yang paling rajin puasa ini bersedih”
“Iya bu . Fathimah tadi bilang kalau kemarin dia telah dibelikan ummi nya 2 stel baju yang bagus sekali . Warnanya merah muda serasi dengan kerudungnya . Salma juga begitu bu. Dia dibelikan baju yang sama dengan adiknya . Hamzah bu anak lelaki temanku yang badung itu dia pun telah dibelikan baju koko yang sama dengan ayahnya “
“Ays… Ingat tidak kalau waktu kenaikan kelas Aysah mendapat juara kelas ayah dan ibu membeli gaun panjang yang cantik yang serasi waena dan modelnya dengan kerudung yang sampai sekarang belum pernah Ays pakai ?”
“Ingat bu . Tapi itu kan bukan baju buat lebaran. “
“Ya sudah, sekarang Ays ganti baju dan ikut ibu ya?”
“Kemana bu? Beli baju lebaran ya?”
Dengan senyum yang penuh arti ibu hanya mengiyakan pertanyaan Aysah. Tak sampai satu jam perjalanan ibu dan Aysah sampai di suatu tempat, Dengan cermat Aysah membaca papan nama di depan bangunan itu . Panti Asuhan Kasih Ibu demikian nama yang ada di papan itu .
“Ayo Ays , kita masuk ke dalam “
Dengam langkah ibu yang lebih dulu didepan . Setelah mengucap salam dengan seorang bapak penjaga ibu dan Aysah memasuki ruangan yang ada di bagian depan bangunan panti itu.
“Selamat datang bu Nurul . Ini pasti Aysah yang pintar tauziah itu ya bu aduh cantiknya” kata ibu pengurus panti yang ternyata adalah teman ibu Aysah .
“Iya bu Ida . Saya kesini mengajak Aysah menengok saudara saudara di sini. Tak lupa Ays juga membawa oleh oleh pakaian , buku , buku cerita dan sedikit makanan buat adik adik Ays disini, bukan begitu Ays?”
Aysah hanya mengangguk mendengar perkataan ibu . Dengan diantar bu Ida, Aysah dan ibu berkeliling melihat lihat keadaan dipanti .
Ada segerombol anak seusia Ays yang sedang membaca buku cerita . Mereka menganggukan kepala sembari mengucap salam ketika Aysah melewatinya . Pakaian mereka sederhana sekali . Tidak ada jepit atau pita di rambut mereka . Disudut ruangan ada dua anak yang sedang belajar merajut . Mereka bergantian melihat buku panduan yang halamannya sudah lusuh pertanda kalau buku itu sudah usang . Ada juga sekelompok anak yang sedang menghiasa stoples bekas dengan kain perca beraneka warna . Mereka dengan tekun dan gembira mengerjakannya . Usia mereka tidak jauh dengan usia Aysah .
Dibelakang bagian panti itu Aysah melihat anak anak yang usianya lebih besar tengah membantu pengurus panti memasak untuk berbuka puasa nanti . Ada yang memotong sayuran meracik bumbu dan memarut kelapa untuk dijadikan minuman disaat berbuka nanti . Mereka semua tak menampakkan kesedihan dan kelelahan dengan keadaan mereka . Mereka menjalani nya dengan ikhlas dan tawakal .
Aysah melihat semua ini dengan hati terharu . Mereka tak punya orang tua, saudara tetepai tetap berusaha untuk tabah dan gembira. Mereka tak punya baju baru, sepatu baru apalagi bandana dan jepit rambut baru . Mereka makan dengan menu seadanya mereka sekolah dengan peralatan bekas dari donator yang dengan setia mengunjungi panti ini. Tidak ada handphone , Ipad dan games games keren yang dapat mereka mainkan.
Tak terasa air mata mengalir di pipi Aysah melihat ini . Perasaan haru, sedih dan menyesal berbaur menjadi satu . Aysah merasa kecil sekali bila disbandingkan dengan mereka. Mereka tetap tabah , tawakal dan selalu bersyukur walaupun dalam keterbatasan .
Aysah malu dengan dirinya sendiri yang selalu merasa kekurangan walaupun berlebihan . Keluarga yang sayang, teman dan saudara yang selalu ada, baju baju bagus yang selalu mengikuti mode, handphone dan peralatan modern yang disediakan dirumah untuk menunjang belajar dirumah . Dan masih banyak lagi nikmat dan karunia Tuhan kepada Aysah .
Aysah sadar bahwa dirinya masih jauh lebih beruntung dari mereka.
“Ays, kita pulang yuk” Kata ibu menyadarkan Aysah yang kemudian hanya mampu menganggukkan kepala . Dalam benaknya hanya satu keinginan untuk meminta maaf kepada Ibu . Aysah sudah tidak ingin dibelikan baju baru lagi . Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan ayah dan ibu tercinta . Aysah berjanji untuk lebih berbagi dengan sesama untuk kebaikan di bulan yang suci ini .